Home Awal Good speech of Sofyan Jalil

Good speech of Sofyan Jalil

1480
0

DENGAN MENELADANI AKHLAK NABI MUHAMMAD SAW KITA BANGUN
INDONESIA YANG DAMAI, ADIL DAN SEJAHTERA
SOFYAN A. DJALIL

Setiap tahun umat Islam di seluruh dunia selalu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan hari Maulid ini bahkan menjadi sebuah ajang pesta rakyat yang selalu ditunggu-tunggu. Tentunya ini adalah salah satu wujud kecintaan kita terhadap Rasulullah SAW. Namun dalam acara Maulid ini, mungkin kita perlu merenung dan bertanya; Apakah acara ritual tahunan ini sudah menjadikan kita manusia yang berakhlak mulia, sesuai dengan misi yang dibawa Muhammad? Karena misi utama ajaran Nabi SAW adalah, seperti yang tertera dalam sebuah Hadist: “Tidaklah aku diutus kecuali untuk memperbaiki akhlak” (HR Bukhari). Juga dalam sebuah hadits, “Orang yang imannya paling sempurna di antara kalian adalah yang paling mulia akhlaknya”.

Begitu tingginya nilai akhlak mulia, sehingga Rasulullah mengartikan agama itu sendiri sebagai keindahan akhlak. Dikisahkan seorang lelaki menemui Rasulullah saw, dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia menghampiri Nabi dari sebelah kiri, menanyakan hal yang sama. Rasul menjawab,  “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang dan kembali bertanya, “Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu adalah akhlak yang baik.” (al-Targhib wa al-Tarhib 3: 405).

Apa yang membuat akhlak atau karakter menjadi begitu penting sehingga menjadi pilar utama misi kenabian Muhammad? Kalau kita mengacu pada pendapat beberapa filsuf dan para sosiolog moderen, mungkin kita dapat mengerti mengapa Rasulullah menganggap begitu pentingnya karakter. Misalnya, lebih dari 2500 tahun yang lalu, Heraclitus telah mengeluarkan sebuah pernyataan terkenal yang sering disitir oleh banyak para negarawan, yaitu “Character is destiny, it shapes the destiny of  the whole society”. Juga, “A man’s character is his fate”. Cicero (106 SM) menyatakan bahwa: “Within the Character of the citizen, lies the welfare of a nation”. Yang intinya adalah, apabila karakter seseorang atau sebuah bangsa baik, maka nasibnya pasti akan baik. Seorang sosiolog terkenal, Francis Fukuyama, memperkenalkan konsep modal sosial (social capital) sebagai kunci utama kemajuan sebuah bangsa, yang disebutnya “High Trust Society”.[1] Negara yang modal sosial tinggi adalah cerminan dari  masyarakat yang saling percaya dan mempunyai rasa kebersamaan tinggi. Hal ini terjadi karena masing-masing individunya mempunyai karakter yang jujur, toleran, dapat diandalkan, bertanggung jawab dan pekerja keras.

Dale Davidson dan Rees-Mogg menyimpulkan hasil studinya dengan pernyataan “all strong societies have a strong moral basis” . Berdasarkan tinjauan sejarah pembangunan ekonomi di berbagai negara, pada kelompok negara yang sukses ternyata masyarakatnya mempunyai etika kemandirian, kerja keras, tanggung jawab, hemat dan jujur.[2]

Keterkaitan antara karakter dan kemajuan bangsa adalah sebuah Sunatullah, karena sudah tertulis dalam Surat Al-Anbiyaa: 105 yang berbunyi: “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lohmahfuz, bahwasanya bumi ini diwariskan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh.”  Allah SWT telah menetapkan bahwa kepada mereka yang saleh (berakhlak mulia) sajalah bumi ini akan diwariskan, yaitu kehidupan dunia yang penuh kejayaan, kedamaian dan sejahtera.  Ketetapan Allah SWT tersebut memang telah dituliskan sebelumnya dalam kitab Zabur, seperti diterangkan oleh Yusuf Ali dalam tafsir Qur’an yang ditulisnya, bahwa pesan yang sama tersurat dalam kitab Perjanjian Lama (Mazmur 37:11) yang berbunyi “Tetapi orang yang lemah lembut hatinya itu akan mewarisi tanah itu kelak dan merasai kesukaan dan sejahtera dengan kelimpahannya.”

Ini adalah Sunatullah yang berlaku universal, di mana sebuah bangsa baik Muslim atau pun Non-Muslim, apabila menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kerja keras, disiplin, menjaga kebersihan, toleransi, kasih sayang, saling menghormati dan taat hukum, maka masyarakatnya akan mandapatkan rahmat yang melimpah, yaitu kehidupan yang damai dan sejahtera.

Nabi Muhammad SAW memang telah mewariskan sebuah model masyarakat idaman yang diakui keunggulannya oleh para pakar sosiolog dan politik moderen seperti Robert N Bellah, Martin Lings, dan lainnya. Masyarakat Madani (civilized society) yang dibangun oleh Nabi Muhammad adalah berdasarkan prinsip-prinsip ajaran kebenaran universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak, seperti kepedulian sosial dan toleransi yang tinggi, terbuka, demokratis, dan nilai-nilai akhlak lainnya. Sayangnya, kehidupan seperti masyarakat madani ini masih menjadi impian kita semua, karena kita belum melihat sebuah masyarakat Muslim yang betul-betul sesuai dengan ciri masyarakat Madani Rasulullah. Kita masih belum bebas dari kemiskinan, ketakutan, kemalasan, korupsi, konflik, dan kekerasan. Seperti halnya Sunatullah tsb., mungkin kita belum menjadi manusia yang berkarakter, walaupun kita mengaku sudah beriman.  Adakah hal yang salah dalam metode pembentukan akhlak kita, sehingga tujuan manusia beragama belum tercapai seperti yang diinginkan Rasulullah, yaitu menjadi manusia berakhlak mulia?

Bapak Presiden dan saudara-saudara sekalian yang dicintai Allah. Dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW kali ini, marilah kita merenungkan kembali hakikat misi Rasulullah mengapa beliau diturunkan ke muka bumi ini, dan mengambil teladan dari keindahan akhlak beliau, sehingga kita bisa memperbaiki nasib bangsa kita menuju Indonesia yang adil dan sejahtera. Karena kelahiran beliau adalah sebuah rahmat yang besar bagi umat manusia, seperti firman Allah:  “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS Al-Anbiyaa 21).

Keteladanan Rasulullah SAW

Allah SWT menyuruh kita untuk bercermin pada keteladanan Nabi Muhammad SAW seperti yang difirmankan Allah SWT: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (QS Al-Ahzab:21). Juga dalam QS Al-Qalam:4 yang berbunyi: “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Kita semua sudah mengetahui kesempurnaan akhlak Rasulullah, yaitu siddiq (jujur, benar), amanah (bisa dipercaya, bertanggung jawab), tabligh (menyampaikan dan menyeru kebenaran), dan fathonah, yaitu cerdik dan pandai.  Bisa kita bayangkan apabila sebuah masyarakat yang manusia-manusianya mempunyai semua ciri karakter tersebut, maka pastilah tercipta sebuah masyarakat yang tingkat kepercayaannya tinggi, kerjasama yang baik, sangat efisien karena bebas korupsi yang biaya ekonomi tinggi, serta produktif, seperti yang telah diuraikan di atas.

Ada sifat Rasulullah yang menonjol yang perlu kita contoh, yaitu bersifat dermawan, lembut hati dan pemaaf, seperti yang digambarkan Allah SWT tentang akhlak mulia dalam surat Al Imran:134-135 yaitu, : “Orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Banyak sekali kisah kedermawanan Rasulullah yang terekam dalam hadist dan sejarah kehidupan beliau. Beliau dikenal penuh empati, dan selalu mendermakan apa saja yang beliau miliki. Nabi pernah berkata bahwa “Apabila Aku memiliki emas sebesar gunung Uhud pun, Aku tidak akan berbahagia sampai Aku bagikan seluruhnya dalam tiga hari, kecuali tersisa satu dinnar untuk membayar hutangku” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudara-saudara sekalian yang berbahagia. Alangkah indahnya apabila dalam kondisi krisis seperti sekarang ini, setiap individu mempunyai rasa solidaritas dan kepedulian tinggi untuk membantu sesama yang mengalami kesulitan.Selain keadilan sosial bisa tercipta, relasi sosial juga akan diwarnai oleh rasa kasih sayang, kepedulian, dan keharmonisan. Manfaat sedekah ternyata juga berguna bagi kesehatan tubuh dan jiwa kita. Ilmu pengetahuan sudah membuktikan bahwa sedekah akan membuat diri kita bahagia, karena setiap perbuatan baik akan merangsang otak untuk mengeluarkan zat neurotransmitter serotonin dan dopamine yang berperan dalam menyembuhkan depresi dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat menyembuhkan beberapa penyakit.[3] Hal ini persis seperti yang dikatakan Rasulullah SAW: “Obatilah penyakitmu dengan sedekah”. Juga sabda beliau, “Perbanyaklah sedekah, karena dengan sedekah akan memperpanjang umur”.

Bapak Presiden dan seluruh hadirin yang terhormat. Mungkin kita bertanya bagaimana akhlak dermawan dapat membuat kehidupan sejahtera? Sesuai dengan firman Allah, ternyata sedekah itu juga dapat mengundang rezeki yang melimpah. Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Nya bahwa Dia akan membalas setiap kebaikan hamba?hamba?Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan, di ayat yang lain dinyatakan Allah akan membalas dengan 700 kali kebaikan. Dalam Quantum Physic teori “the Law of Attraction” sedang ramai dibicarakan, yaitu teori tentang “sesuatu akan menarik sejenisnya”; “pikiran positif akan menarik hal-hal positif”. Begitu juga sebaliknya. Orang yang selalu memberi dengan ikhlas adalah orang yang selalu berpikir positif bahwa dirinya merasa mempunyai rezeki berkecukupan, sehingga pikiran tersebut akan menarik limpahan rezeki yang berlipat-ganda. Mike Litman yang menulis buku “Conversations with Millionaires” sering memakai istilah “giving is receiving”. Inilah mungkin mengapa Bill Gates atau Warren Buffet misalnya, kekayaannya terus melimpah walaupun sudah menyumbangkan hartanya milyaran dollar. Mungkin kita pernah mendengar beberapa waktu yang lalu Warren Buffet  menyumbangkan dana sebesar 40 milyar dollar untuk kegiatan sosial.

Begitu pula sebaliknya, orang yang kerjanya hanya meminta dan menuntut, ia selalu berpikir dan merasa kekurangan. Pikiran negatif ini akan mengundang kesulitan dan kekurangan yang akan terus menimpanya. Sikap ketergantungan memang dapat membentuk sikap malas untuk bekerja, sehingga bisa menjadi lingkaran setan kemiskinan dan ketergantungan.

Oleh karena itu Rasulullah sangat menilai tinggi sikap kemandirian dan kerja keras. Beliau pernah berkata ketika didatangi salah satu pengikutnya yang meminta bantuan karena kesulitan uang. “Apabila seseorang meminta sesuatu kepadaku, tentunya akan aku berikan, tetapi apabila ia menunjukkan dirinya berkecukupan dan tidak memerlukan bantuan, Allah akan membuatnya makmur”. Perkataan Rasulullah telah mengubah nasib orang tersebut, dimana ia menjadi rajin bekerja dan berhasil menjadi salah satu orang terkaya. Kemudian Rasulullah berkata ketika bertemu orang itu lagi, “Seperti telah akau katakan sebelumnya, orang yang berusaha untuk mandiri (tidak tergantung pada orang lain), Allah akan membuatnya mandiri”[4] Sebuah bangsa yang mandiri, yang gemar bekerja keras, dan tidak mau meminta-minta tentunya akan menjadi sebuah bangsa yang makmur.

Sifat lain yang menonjol dalam diri Rasulullah adalah kelembutan hati, mampu menahan marah dan pemaaf.  Bukhari dan Muslim meriwayatkan Anas yang membantu rumah tangga Rasulullah selama 10 tahun, mengatakan bahwa ia tidak pernah mendengar Rasulullah berkata “ah” sama sekali kepadanya. Beliau juga tidak pernah berkata kasar kepada siapa pun.

Abu Hurairah berkisah bahwa seseorang berkata kepada Nabi: “berwasiatlah kepadaku”. Beliau bersabda : jangan menjadi seorang pemarah. Kemudian permintaan diulang beberapa kali. Dan beliau bersabda : janganlah menjadi orang pemarah” (HR. Bukhari). Banyak lagi sabda Rasulullah yang menegaskan bahayanya sifat pemarah, seperti ”Kemarahan akan merusakan iman, seperti halnya cuka merusak madu”, ”Marah itu awal segala keburukan”, dan Marah adalah bara api setan.[5]

Sikap sabar dan pemaaf Rasulullah kerap terlihat bahkan terhadap orang-orang yang telah begitu kejam terhadapnya. Suatu ketika beliau pergi ke Ta’if untuk menyampaikan kalimat Allah, namun disambut oleh penduduk Taif dengan penghinaan, pukulan dan lemparan batu. Dengan badan yang penuh luka beliau bergegas pergi meninggalkan Taif. Ketika sedang beristirahat di bawah pohon, malaikat datang menyampaikan pesan bahwa Allah akan menghukum penduduk Taif, namun Muhammad justru berdoa untuk keselamatan penduduk Taif dengan do’anya yang terkenal: “Ya Allah, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu”.

Bersikap sabar dan pemaaf selain akan menciptakan relasi sosial yang damai, ternyata sangat bermanfaat untuk kesehatan individu. Ilmu kedokteran sudah membuktikan bahwa emosi negatif yang ditimbulkan oleh rasa marah, dapat  menyebabkan beberapa penyakit degeneratif, seperti jantung, darah tinggi, pencernaan, depresi, kanker, dan berbagai masalah metabolism tubuh lainnya.[6] Bahkan emosi negatif akan merusak sel-sel otak hypocampus dan corpus collusum, serta memperkecil jaringan neocortex sehingga dapat menurunkan daya pikir manusia.[7] Dalam kitab al-Mustadrak juga dikatakan bahwa “Marah itu merusak akal pikiran dan jauh dari kebenaran”.[8] Menurut ilmu Neurobiology, ketika kita sedang stress atau marah, zat neurotransmitter cortisol yang diproduksi oleh kelenjar adrenalin akan meningkat, sehingga zat ini dianggap sebagai “racun bagi otak”. Hasil studi University of Utah menunjukkan bahwa orang pemarah mempunyai kadar cortisol 100% lebih tinggi dibandingkan orang yang bukan pemarah.[9]

Bidang keilmuan Positive Psychology sudah membuktikan bahwa ada hubungan yang erat antara “positive people” dan “positive community”. Beberapa studi lintas budaya (cross-cultural studies) menunjukkan bahwa masyarakat yang bercirikan “ positive people”  mempunyai kehidupan masyarakat yang positif pula, yaitu relasi sosial yang harmonis, menghargai HAM, lebih kreatif, dan lebih sejahtera dibandingkan dengan masyarakat yang bercirikan “negative people”.[10] Subhanallah, janji Allah pasti benar, “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lohmahfuz, bahwasanya bumi ini diwariskan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh,”

Bapak Presiden dan hadirin yang saya hormati. Mungkin selama ini kita belum menjadikan akhlak sebagai isu penting dalam wacana pembangunan bangsa. Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita berusaha mewujudkan bangsa Indonesia yang berkarakter secara lebih serius lagi, karena janji Allah pasti benar. Tanpa akhlak mulia, mustahil Allah SWT akan mewarisi bumi ini kepada bangsa Indonesia.

Bagaimana Membangun Akhlak?

Membangun akhlak ternyata tidak mudah. Al Ghazali menggambarkan akhlak sebagai tingkah laku yang berasal dari hati yang baik. Hal ini berbeda dengan pengetahuan tentang akhlak (moral knowing), yang belum tentu sejalan dengan perilakunya. Hampir semua manusia yang beragama mengetahui moral baik dan buruk, namun apabila hatinya tidak baik, maka perilakunya akan buruk. Contoh yang masih segar dalam ingatan kita adalah kasus Ryan, seorang pembunuh berantai yang masa kecilnya justru hidup di lingkungan pesantren yang bernuansa agama yang begitu kental, dan bahkan pernah menjadi guru mengaji.

Akhlak mulia ternyata tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap manusia, tetapi memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan yang baik, serta latihan terus menerus sehingga akhlak mulia menjadi terukir di dalam jiwanya. Seperti istilah character yang berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti mengukir sehingga terbentuk sebuah pola yang indah.

Manusia ketika dilahirkan memang dalam keadaan fitrah (suci), seperti yang dikatakan dalam sebuah hadits Qudsi: “Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan suci dan lurus. Lalu datanglah setan membelokkannya dari kebenaran[11] Hadits ini memberi petunjuk bahwa kesucian (fitrah) manusia bisa layu dan mati apabila lingkungan budaya, pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai akhlak tidak mendukung.

Banyak pakar yang berpendapat bahwa karakter itu harus dibentuk sedini mungkin, karena 90% otak manusia terbentuk dibawah usia 7 tahun. Pada usia ini otak anak cepat sekali menyerap, yang menurut Montessori disebut the absorbent mind . Seperti halnya sponge kering, apabila air yang diserap berupa ‘cinta’ maka sponge tersebut penuh berisi cinta. Thomas Lickona, seorang pakar pendidikan karakter mengatakan bahwa  cinta adalah prasyarat utama agar anak tumbuh berkarakter, “Love lights the lamp of human development. If we want to raise good children, we should begin by giving them our love”.

Banyak studi menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil sangat menentukan pembentukan kepribadian seseorang yang akan terbawa sampai dewasa. Alice Miller, seorang psikolog terkenal, dalam bukunya “For your Own Good” mengisahkan beberapa sosok kejam yang terkenal di dunia, salah satunya adalah Hitler.[12] Ternyata Hittler dibesarkan dalam lingkungan yang penuh siksaan fisik yang dilakukan oleh ayahnya yang berdarah Yahudi (ayahnya adalah anak hubungan gelap antara neneknya dan seorang pria Yahudi). Kekerasan yang dialami Hitler ketika kecil, telah membuatnya seorang yang berdarah dingin.

Lingkungan seorang anak dibesarkan akan menentukan pembentukan struktur dan kimia otak. Struktur otak manusia sekarang sudah dapat dilihat melalui teknologi Scan PET (Positron Emmision Tomography). Adrian Raine meneliti perbedaan antara struktur otak para kriminal dan manusia baik-baik. Hasilnya seperti terlihat dalam gambar, bahwa struktur otak para kriminal yang sua dengan kekerasan tumbuh berbeda dari otak manusia normal, yaitu bagian neocortex lebih kecil dan kurang aktif dibandingkan dengan manusia normal. Sedangkan bagian batang otaknya (otak reptil) lebih aktif daripada manusia normal.[13] Perbedaan struktur otak ini terjadi karena adanya perbedaan zat kimia otak seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu zat serotonin dan dopamine ketika anak mempunyai emosi positif, dan cortisol apabila emosi negatif.

Perkembangan struktur dan kimia otak ini amat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang diasuh dan dibesarkan ketika kecil, dan lingkungan sosial di mana mereka tumbuh. Hasil riset Bruce Perry menunjukkan bahwa manusia yang mengalami masa kecil yang tidak menyenangkan (neglect dan/atau trauma) akan menyebabkan pertumbuhan batang otak yang berlebihan, dan bagian neocortexnya mengecil, seperti yang terlihat dalam gambar.

 

Brain scan (PET) of a normal control (left) and a murderer (right), illustrating the lack of activation in the prefrontal cortex in the murderer. The figures are a transverse (horizontal) slice through the brain, so you are looking down on the brain. The prefrontal region is at the top of the figure, and the occipital cortex (the back part of the brain controlling vision) is at the bottom. Warm colors (e.g., red and yellow) indicate areas of high brain activation; cold colors (e.g. blue and green) indicate low activation. courtesy of Adrian Raine

Bruce Perry

Uraian ini dapat menjawab pertanyaan mengapa membangun akhlak itu tidak mudah, karena harus melalui proses panjang pengasuhan dan pendidikan, baik di rumah maupun di sekolah. Apabila anak-anak terlalu banyak mengalami emosi negatif (trauma, stress, ketakutan, dsb), maka mereka akan berkembang menjadi manusia yang keras, egois, dan sulit untuk berempati kepada orang lain. Sebaliknya, apabila emosi positif yang lebih berkembang, maka akan mudah bagi mereka untuk berakhlak mulia.

Kembali lagi pada keteladanan Rasulullah. Tentunya Allah SWT telah menyiapkan segala sesuatunya agar Muhammad dapat tumbuh menjadi manusia yang sempurna akhlaknya. Apalagi harus sesuai dengan arti nama Muhammad itu sendiri, yaitu “yang terpuji” (“the praised one”), yang diberikan Allah SWT melalui mimpi ketika Aminah masih mengandung Muhammad. Jauh sebelum kerasulannya, Muhammad memang sudah tumbuh menjadi seorang yang amat terpuji akhlaknya, sehingga karena kearifan dan kejujurannya beliau dijuluki Al Amin (yang dapat dipercaya).

Bapak Presiden dan seluruh hadirin yang dimuliakan Allah.  Apabila kita mempelajari sejarah masa kecil Muhammad, kita dapat mengerti mengapa Muhammad bisa tumbuh menjadi manusia sempurna. Ketika beliau dilahirkan, ia sudah menjadi anak yatim sehingga mendapatkan perhatian dan kasih sayang penuh dari ibunya dan kakeknya, Abdul Muthalib. Begitu gembiranya sang kakek, bayi Muhammad didekap dan dibawanya ke Ka’bah untuk memanjatkan do’a syukur atas karunia Allah.

Seperti kebiasaan masyarakat Mekah saat itu untuk mencari ibu susuan, Aminah pun mempercayakan putranya untuk diasuh seorang wanita dari suku Badui, Bani Sa’ad yang bernama Halimah. Dikisahkah, ketika rombongan Bani Sa’ad datang ke Mekah untuk mencari bayi-bayi untuk diasuh dan disusui, tidak seorang pun mau menerima Muhammad, karena seorang anak yatim dari ibu yang miskin pula. Para ibu susuan memang tidak mengaharapkan imbalan uang, tetapi mengharapkan ada hubungan kekerabatan jangka panjang, terutama dengan keluarga yang berada atau terpandang. Namun Halimah, wanita yang paling miskin diantara kaumnya, mau menerima Muhammad untuk disusui dan diasuh, yang menandakan betapa mulianya akhlak Halimah. Seperti dikisahkan oleh Martin Lings, segera ketika Muhammad dibawa Halimah, air susunya yang tadinya mengering melimpah ruah, sehingga Muhammad tumbuh sehat, jauh melebihi anak-anak lain seumurnya. Bukan itu saja, kehidupan Halimah menjadi membaik setelah mengasuh Muhammad, karena air susu onta betinanya, dan kambing-kambingnya juga menghasilkan susu yang banyak pula, yang membuat para tetangganya terheran-heran. Suami Halimah berkata, “Demi Tuhan, Halimah, engkau telah mengambil makhluk yang diberkahi Tuhan”.[14]

Singkat kata, selama 2 tahun lebih Muhammad diasuh dengan kasih sayang oleh Halimah. Ketika Muhammad dikembalikan kepada ibunya, ia mendapatkan perhatian lebih dari kakek, paman, bibi dan sepupunya yang tinggal bersamanya. Aminah meninggal dunia ketika Muhammad berusia 6 tahun, sehingga kakeknya, Abdul Muthalib mengasuh penuh cucunya. Dikisahkan oleh Lings, Muhammad selalu dbergandengan tangan dengan kakeknya, ke mana pun kakeknya pergi. Ia selalu duduk di samping kakeknya ketika berada di Ka’bah dan menunggangi punggung kakeknya. Kakeknya selalu senang dengan tingkah laku cucunya tersebut, dan kerap berkata “Masa depan cucuku ini sungguh gemilang”. Bahkan dalam rapat pertemuan majelis antar kepala suku, Muhammad sering diajak bicara dan ditanyakan pendapatnya oleh kakeknya, walaupun ia masih berusia 7 tahun.

Dua tahun setelah ibunya wafat, kakek tercintanya meninggal dunia yang sebelumnya berpesan kepada anaknya Abu Thalib (paman Muhammad) dan isterinya Fathimah untuk mengasuh Muhammad dengan sebaik-baiknya. Dikemudian hari, Muhammad sering bercerita tentang begitu sayangnya Abu Thalib dan Fathimah kepada Muhammad sampai-sampai  “ia membiarkan anak kandungnya sendiri lebih lapar ketimbang dirinya, sang kemenakan”.[15]Tidak ada satu pun kisah yang terdengar Muhammad mengalami perlakuan kasar dan mengalami stress atau pun depresi ketika kecilnya. Walaupun ia pernah mengalami kesedihan ketika ibu dan kakeknya wafat, namun tangisan karena kematian orang yang dicintai adalah tangisan rahmat kasih sayang. Hal ini dikatakan beliau ketika cucunya wafat dan meneteskan air mata :”(Tangis) ini adalah suatu rahmat yang telah dijadikan Allah di dalam hati hamba-hamba-Nya. Sesunguhnya Allah hanya merahmati kepada hamba-hambanya yang penuh rasa kasih sayang.

Bapak Presiden dan seluruh hadirin yang berbahagia. Cinta kasih yang begitu besar yang diperoleh Muhammad, menjadi fondasi yang kokoh terbentuknya akhlak sempurna pada diri Muhammad. Maka, Muhammad pun menjadi seorang ayah dan kakek yang penuh kasih sayang. Rasulullah sangat prihatin apabila melihat ummatnya yang tidak menyayangi anaknya. Suatu saat ada seorang Badui yang bertanya kepadanya: “Apakah engkau mencium anak-anakmu ya Rasulullah? Sedangkan kami tidak pernah melakukan hal tersebut? Rasulullah menjawab: “Apakah kamu tidak takut bila Allah mengambil rasa kasih sayang dari hatimu?”

Abu Hurairah meriwayatkan: “Bahwasanya Rasulullah sedang menciumi cucunya, Hasan bin Ali kala itu sahabatnya, Al-Aqra’ duduk di sisinya, Al-Aqra’ berkata: “Aku punya sepuluh orang anak namun tidak satu anakpun pernah kucium!” Rasulullah menoleh kepadanya lalu berkata: “Barangsiapa yang tidak menyayangi niscaya tidak akan disayang!”

Rasulullah pun sering terlihat senang bermain dengan anak-anak. Suatu saat ia berkejaran dengan cucunya Husain yang kemudian ditangkapnya, digendong dan diciumnya. Rasulullah juga pernah terlihat meletakkan satu tangan di dagu Hasan, dan lainnya di kepalanya serta merangkul dan menciumnya. Subhanallah.. . Ilmu neuroscience sudah membuktikan bahwa ketika anak dicium dan dielus, sama halnya ketika anak sedang disusui, tubuhnya akan mengeluarkan hormon oxytocin, dopamine dan endhorpine yang amat berguna untuk pertumbuhan fisik dan jiwanya.[16]

Seluruh hadirin yang berbahagia. Rasulullah menyuruh kita untuk memberikan  cinta sebesar-besarnya kepada anak-anak kita; memberikan ASI selama 2 tahun, mencium, mengelus, dan bermain canda dengan mereka. Karena hanya dengan lingkungan yang demikianlah anak-anak kita dapat tumbuh dengan jiwa yang sehat, di mana tubuhnya akan kaya dengan hormon-hormon yang memacu pertumbuhan neocortex, meningkatkan imunitas dan metabolism tubuh, sehingga mereka dapat tumbuh dengan sehat, bahagia, cerdas, kreatif, serta penuh empati dan kasih sayang.

Betapa sedihnya kita mendengar berita masih banyak orangtua yang melakukan kekerasan terhadap anak-anaknya. Guru-guru yang masih membentak dan memukul murid-muridnya. Atau anak-anak yang mengalami stress berkepanjangan, karena beban sekolah yang begitu berat, dan orangtua yang terlalu memaksakan beban akademik berlebihan yang belum waktunya. Bayangkan apabila seorang anak yang sejak kecil dibesarkan tanpa belaian, senyuman dan kasih sayang, kemudian masuk ke sekolah TK dan SD dengan beban pelajaran yang begitu berat, guru yang tidak menyenangkan dan selalu bermuka masam, suasana sekolah yang penuh bullying, berapa banyak hormon cortisol yang ditimbun di tubuhnya? Keadaan stress memang kadang-kadang diperlukan untuk memacu kita untuk giat belajar. Namun apabila keadaan ini berlangsung secara kronis, maka ini akan berbahaya bagi kesehatan jiwa manusia, karena bagian otak reptil manusia akan tumbuh dominan. Dan ini akan mewarnai kehidupan berbangsa kita yang penuh konflik, kecurigaan, keculasan atau yang disebut low trust society. Alangkah sulitnya kita membangun manusia berakhlak mulia kalau fondasi sturktur dan kimia otaknya tidak mendukung. Tentunya, alangkah sulitnya kita dapat mewarisi bumi ini untuk hidup damai, adil dan sejahtera, seperti yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang berakhlak mulia.

Bapak Presiden dan seluruh hadirin yang saya hormati. MDalam memperingati hari Maulid Nabi ini, inilah makna yang perlu kita renungkan bersama; bagaimana kita bisa meneladani akhlak Rasulullah SAW.  Marilah kita sebagai bangsa bangkit untuk maju melalui bangsa berkarakter; bangsa yang penuh kasih sayang, saling menghormati, toleran, jujur, bebas dari ketakutan dan kebencian, serta saling bahu-membahu untuk kemajuan bersama. Semoga Allah SWT selalu memberkati bangsa Indonesia. Amien.


[1]Fukuyama, Francis, Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity (New York: the Free Press, 1995).

[2] Davidson, James Dale & Lord William Rees-Mogg. The Sovereign Individual: How to Survive and Thrive During the Collapse of the Welfare State (New York: Simon and Schuster, 1997). Pp. 351

[3] Hasil studi yang dilakukan oleh University of British Columbia seperti yang dilaporkan dalam majalah ScienceNow, The Secret of Happiness? Giving. 20 March 2008:2.

[4] Pand-e-Taareekh, vol. 3, pg. 129; Wafi, vol. 2, pg. 139.

[5]  Bihar Al Nawar,73/265

[6] Martin P. Paulus, M.D. et.al. “Anger: Definition, Health Consequences, and Treatment Approaches.  Department of Psychiatry Laboratory of Biological Dynamics and Theoretical Medicine  University of California San Diego.

[7] Studi oleh Bruce McEwen dari Rockefeller University.

[8] al-Mustadrak Juz 12, No 13376

[9]   MK Pope and TW Smith. Cortisol excretion in high and low cynically hostile men. Department of Psychology, University of Utah, Salt Lake City. Psychosomatic Medicine, Vol 53, Issue 4 386-392

[10] Martin E.P. Seligman, Positive Psychology Network Concept Paper, University of Pennsylvania. http://www.ppc.sas.upenn.edu/ppgrant.htm

[11] [Diriwayatkan oleh Muslim 2865, Ahmad IV : 162,163,266 dari hadits ‘Iyyadh bin Himar Al-Mujasyi’i]

[12] Alice Miller, For Your Own Good: Hidden Cruelty in Child-Rearing and the Roots of Violence. New York: Farrar – Straus – Giroux, 4th edition 2002.

[13] Adrian Raine, Murderous Minds: Can We See the Mark of Cain?, The Dana Foundation publication, April, 1999.

[14]  Martin Lings, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, Cambridge, UK: The Islamic Texts Society, 1991.

[15] Ibid.

[16] Lihat www.attachmentparenting.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.